USD/IDR: Rupiah Melemah 0,48% ke Rp17.965, Minyak dan Imbal Hasil AS Menekan

  • Kurs Rupiah melemah 85 poin atau 0,48% ke Rp17.965 per Dolar AS pada Senin, dengan JISDOR berada di level yang sama.
  • Kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS membayangi Rupiah, meski DXY terkoreksi ke 100,99 dari puncak 101,39 pekan lalu.
  • Pasar selanjutnya menantikan inflasi dan neraca perdagangan Indonesia, serta PCE, ADP dan NFP AS yang dapat menentukan arah Dolar dan USD/IDR.

Rupiah Indonesia (IDR) mengawali pekan dengan tekanan cukup kuat terhadap Dolar AS (USD). Pada Senin, 28 September 2026, pasangan mata uang USD/IDR naik 85 poin atau sekitar 0,48% ke Rp17.965, dari Rp17.880 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga tercatat di Rp17.965 per Dolar AS, membawa Rupiah semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000.

Kenaikan harga minyak kembali menjadi salah satu tekanan utama. Berdasarkan data Bloomberg sekitar pukul 14.20 WIB, WTI melonjak 2,21% ke US$94,45 per barel, sementara Brent naik 2,71% menjadi US$107,15. Lonjakan energi meningkatkan kekhawatiran terhadap kebutuhan Valas untuk impor dan prospek neraca perdagangan Indonesia. Pemerintah sejauh ini memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak dinaikkan hingga akhir 2026, sedangkan harga BBM nonsubsidi akan tetap mengikuti perkembangan harga pasar dan Indonesian Crude Price (ICP).

Tekanan eksternal juga datang dari pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury 10-tahun naik ke 5,209%, sementara tenor 2-tahun berada di 4,91%, meski Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi ke 100,99 pada awal sesi Eropa setelah mencapai 101,39 pada Kamis pekan lalu. Lloyd Chan dari MUFG menilai kenaikan imbal hasil AS telah mengikis dukungan dari selisih suku bunga Indonesia. Menurutnya, kembalinya arus keluar portofolio asing pada September dan prospek neraca perdagangan yang lebih lemah menunjukkan tekanan mendasar terhadap Rupiah belum hilang.

Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia Jadi Fokus

Perhatian domestik pekan ini beralih ke sederet data pada Kamis, 1 Oktober, terutama neraca perdagangan Agustus dan inflasi September. Surplus perdagangan sebelumnya hanya US$130 juta, ketika ekspor tumbuh 6,05% YoY tetapi impor melonjak 27,02%. Inflasi tahunan sebelumnya tercatat 3,19%, inflasi inti 2,92%, sementara PMI Manufaktur berada di 49,8. Data-data tersebut akan memberi gambaran baru mengenai tekanan harga, permintaan impor, dan kondisi sektor manufaktur.

Dari AS, pasar menantikan ADP dan PCE inti pada Rabu. ADP diprakirakan menunjukkan penambahan 72.000 pekerjaan, sementara PCE inti diprakirakan naik 0,3% MoM dan 3,4% YoY. PMI Manufaktur ISM menyusul Kamis sebelum Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat, yang diprakirakan bertambah 84.000 setelah 162.000 sebelumnya. Kejutan ke atas pada inflasi atau pasar tenaga kerja dapat kembali mendorong ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat dan mempertahankan imbal hasil AS di level tinggi.

USD/IDR Menguji Rp17.986, RSI Mendekati Area Jenuh Beli

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Pada grafik harian, USD/IDR masih berada di dalam ascending channel dan telah menembus resistance Rp17.940 (garis tren menurun) dan kini bergerak di sekitar Rp17.970, tepat di sekitar batas atas Bollinger Band. Resistance berikutnya berada di Rp17.986 (terendah 3–4 Agustus); penembusan yang bertahan di atas area tersebut dapat membuka jalan menuju Rp18.090, yang sebelumnya menjadi area resistance pada akhir Juli.

Momentum kenaikan masih terjaga dengan Relative Strength Index (RSI) di 65,27, meski indikator tersebut mulai mendekati ambang jenuh beli 70. Di sisi bawah, Rp17.940 kini menjadi support terdekat, diikuti Rp17.878 (yang merupakan resistance pada 22–23 September) dan Rp17.774 (sebelumnya merupakan resistance pada awal September). Koreksi yang lebih dalam dapat membawa USD/IDR kembali menuju area Rp17.723–Rp17.709, tempat garis tengah Bollinger Band dan MA 100 periode berada.

Euro Berkinerja Lebih Buruk terhadap Yen Jepang di Tengah Kekhawatiran Intervensi Jepang

Yen Jepang (JPY) diperdagangkan lebih tinggi terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan Eropa hari Senin, dengan pasangan EUR/JPY turun 0,4% ke dekat 178,40. Mata uang Asia-Pasifik ini terus mendapat dukungan dari peringatan verbal Jepang mengenai intervensi untuk menopang mata uang tersebut.
Baca selengkapnya Previous

Mimura dari Jepang menegaskan kembali kekhawatiran atas intervensi bersama AS-Jepang

Diplomat mata uang utama Jepang Atsushi Mimura mengatakan pada ​bahwa pasar harus menerima begitu saja pesan "sangat ‌jelas" yang disampaikan Tokyo dan Washington pekan lalu mengenai Yen, menandakan tekadnya untuk bertindak melawan penurunan ​berlebihan pada mata uang tersebut, menurut laporan Reuters.
Baca selengkapnya Next