USD/IDR: Rupiah Menutup Pekan di Rp17.885, NFP AS Menjadi Fokus

  • Kurs Rupiah menguat 25 poin ke Rp17.885 per Dolar AS pada Jumat, setelah dibuka di Rp17.898.
  • Cadangan devisa Indonesia turun tipis menjadi US$145,3 miliar pada Juli, sementara PDB kuartal II yang lebih kuat dari prakiraan masih menjadi perhatian.
  • Dolar AS bertahan dekat level 100 dan harga minyak kembali naik ketika pasar menunggu laporan Nonfarm Payrolls AS malam ini.

Rupiah Indonesia (IDR) melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat hingga ditutup di Rp17.885 per Dolar AS (USD). Pergerakan tersebut menyeret pasangan mata uang USD/IDR turun 25 poin atau sekitar 0,14% dari Rp17.910 pada Kamis, setelah dibuka di 17.898. Sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.913 per Dolar AS.

Mata uang Garuda tetap berada di zona positif hingga akhir perdagangan ketika Dolar AS bergerak relatif stabil menjelang laporan ketenagakerjaan AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed). Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,95 pada awal sesi Eropa. Di sisi lain, kenaikan harga minyak kembali menjadi risiko bagi mata uang Indonesia setelah ketidakpastian terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.

Cadangan Devisa Juli Turun Tipis

Dari dalam negeri, Cadangan Devisa Indonesia turun menjadi US$145,3 miliar pada akhir Juli dari US$145,6 miliar pada Juni. Penurunan US$300 juta tersebut relatif terbatas dan tidak menghalangi penguatan Rupiah pada perdagangan hari ini. Data lain yang dirilis Jumat menunjukkan Indeks Harga Properti tumbuh 0,69% secara tahunan pada kuartal II, sedikit lebih cepat dari 0,62% sebelumnya.

Perhatian juga masih tertuju pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% YoY pada kuartal II, melampaui prakiraan pasar sekitar 5,10%, meskipun melambat dari 5,61% pada kuartal pertama. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73%.

Societe Generale Soroti Kualitas Pertumbuhan Indonesia

Meski angka utama PDB lebih baik dari prakiraan, Ekonom Societe Generale Kunal Kundu menilai komposisi pertumbuhan masih perlu dicermati. Menurutnya, pertumbuhan banyak ditopang sektor publik, sementara momentum ekonomi non-pemerintah, konsumsi swasta, dan manufaktur masih lemah. Investasi menunjukkan perbaikan, tetapi turut mendorong kenaikan impor.

Kundu mengatakan “angka utama tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati,” dan menilai ekonomi Indonesia tetap tumbuh, tetapi kualitas serta cakupan pertumbuhan masih menimbulkan pertanyaan. Pandangan tersebut membuat data PDB tidak sepenuhnya memberikan gambaran bahwa pemulihan permintaan domestik telah menguat secara luas.

Dolar Menanti NFP, Harga Minyak Kembali Naik

Data AS yang dirilis Kamis menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil menjelang laporan NFP. Klaim tunjangan pengangguran awal hanya naik tipis menjadi 199 ribu, lebih rendah dari prakiraan 202 ribu, sementara jumlah PHK yang dilaporkan Challenger turun menjadi 33,429 ribu pada Juli dari 45,849 ribu sebelumnya. Produktivitas nonpertanian kuartal II juga meningkat 1,4%, jauh di atas prakiraan 0,6%, sedangkan biaya unit tenaga kerja tumbuh 1,3%, lebih rendah dari ekspektasi 2,0%.

Rangkaian data tersebut belum menunjukkan pelemahan tajam di pasar tenaga kerja, sehingga perhatian pasar kini tertuju pada Nonfarm Payrolls (NFP) Juli malam ini untuk menentukan arah Dolar AS berikutnya. Ekonomi AS diprakirakan menambah sekitar 80.000 pekerjaan, setelah kenaikan 57.000 pada Juni, sementara tingkat pengangguran diprakirakan bertahan di 4,2%. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendukung Dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi, sedangkan angka yang lemah dapat kembali menekan Greenback.

Harga minyak juga perlu dicermati setelah Brent naik sekitar 0,80% ke US$83,15 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,54% ke US$77,71. Kenaikan terjadi di tengah ketidakpastian mengenai rencana pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Iran dan Oman membahas ketentuan pelayaran melalui jalur strategis tersebut. Harga minyak yang kembali tinggi dapat membatasi penguatan Rupiah mengingat dampaknya terhadap biaya impor energi Indonesia.

Indikator Ekonomi

Nonfarm Payroll (NFP)

Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Agu 07, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 80Rb

Sebelumnya: 57Rb

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.