USD/IDR: Rupiah Masih Rentan di Pasar Offshore, Minyak Tinggi dan Risiko Fiskal Jadi Beban Utama

  • Rupiah terpantau bergerak di kisaran Rp17.320-Rp17.340 per Dolar AS di pasar offshore, saat pasar domestik Indonesia libur dan likuiditas spot terbatas.
  • Harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel memperbesar tekanan terhadap Rupiah, karena meningkatkan kebutuhan Dolar AS untuk impor energi dan logistik.
  • Pasar menyoroti ruang fiskal pemerintah, setelah harga BBM subsidi tetap ditahan, sementara konferensi pers APBN Kita dibatalkan dan publikasi APBN KiTa Maret sempat ditarik sementara.

Di pasar offshore, Rupiah masih terpantau bergerak di kisaran Rp17.320-Rp17.340 per Dolar AS pada Jumat akhir sesi Asia, meski pasar domestik Indonesia libur. Pergerakan ini lebih bersifat indikatif karena likuiditas spot domestik terbatas saat Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia tidak beroperasi.

Rupiah Masih Dibayangi Risiko Hormuz saat Minyak Bertahan di Atas US$100

Sentimen eksternal masih dibayangi perang AS-Iran yang memasuki fase jeda militer, tetapi belum benar-benar menuju normalisasi. Gencatan senjata menahan risiko benturan langsung, namun blokade dan gangguan arus kapal di Selat Hormuz tetap menjaga premi risiko energi. Menteri ekonomi ASEAN bahkan memperingatkan bahwa gangguan rute maritim dapat memperlambat pertumbuhan regional melalui tekanan pada keamanan energi, harga minyak dan LNG, serta biaya logistik, asuransi, dan pengiriman. Menurut data Bloomberg, Brent kontrak Juli berada di US$110,89 per barel, sementara WTI kontrak Juni di US$104,98 per barel.

Bagi Rupiah, minyak di atas US$100 per barel memperbesar kebutuhan Dolar AS untuk impor energi dan logistik. Tekanan kurs pun tidak hanya datang dari sentimen global, tetapi juga dari kebutuhan valas riil, sementara risiko subsidi ikut membayangi ruang fiskal.

Pemerintah Redam Efek Minyak Tinggi, Ruang Fiskal Tetap Jadi Perhatian

Pemerintah sejauh ini tetap menjaga harga BBM bersubsidi untuk melindungi daya beli, dengan Pertalite di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi di Rp6.800 per liter pada 1 Mei. Kebijakan ini membantu menahan inflasi konsumen, tetapi pasar tetap menakar konsekuensi fiskalnya di tengah Rupiah lemah dan minyak tinggi. Di sektor riil, tekanan energi mulai terasa pada bahan baku impor, logistik, serta produk turunan minyak seperti plastik. Untuk meredam dampak lanjutan ke industri kemasan dan makanan-minuman, pemerintah menurunkan bea masuk impor LPG dan sejumlah bahan baku plastik menjadi 0% selama enam bulan.

Dari sisi fiskal, investor juga menunggu kejelasan terbaru dari Kementerian Keuangan setelah konferensi pers APBN Kita edisi April 2026 dibatalkan dan publikasi APBN KiTa periode Maret 2026 sempat ditarik sementara. Situasi ini membuat ruang APBN sebagai bantalan subsidi energi semakin menjadi perhatian pasar.

Data AS Masih Campuran, Rupiah Menanti Sinyal Baru dari PMI Manufaktur ISM

Dari AS, data terbaru memberi sinyal campuran tetapi belum cukup memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. PCE Maret naik 0,7% MoM dan 3,5% YoY, sementara PCE Inti bertahan di 3,2% YoY. Konsumsi dan pasar tenaga kerja masih kuat, meski PDB kuartal I hanya tumbuh 2,0% dan PMI Chicago turun ke 49,2.

Fokus berikutnya tertuju pada PMI Manufaktur ISM April, terutama komponen harga yang diprakirakan naik ke 80. Jika data kembali kuat, Dolar AS berpotensi tetap ditopang ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, sehingga ruang pemulihan Rupiah dapat semakin terbatas.

Indikator Ekonomi

PMI Manufaktur ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Mei 01, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 53

Sebelumnya: 52.7

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.


Prakiraan Harga USD/CAD: EMA 20-Hari yang Menurun Mendukung Penurunan Lebih Lanjut

Pasangan mata uang USD/CAD diperdagangkan dengan hati-hati di dekat level terendah hari Kamis di sekitar 1,3580 selama sesi perdagangan Asia akhir pada hari Jumat. Loonie diperdagangkan lemah karena Dolar AS (USD) secara luas berada di bawah tekanan, menyusul intervensi Jepang di pasar valas.
আরও পড়ুন Previous

Nationwide Housing Prices s.a (MoM) United Kingdom April di Atas Harapan -0.3%: Aktual (0.4%)

Nationwide Housing Prices s.a (MoM) United Kingdom April di Atas Harapan -0.3%: Aktual (0.4%)
আরও পড়ুন Next